Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir

Share

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir
Assalamu'alaikum sobat pejuang islam :)

Nah pada postingan kali ini merupakan lanjutan dari Kisah "Perjalanan Nabi Musa Mencari Nabi Khidir". Ketika Yusya bin Nun menceritakan kepada Musa tentang kejadian ikan tersebut mereka kembali menelusuri jejak mereka semula, ketika tiba di batu besar, ternyata disana ada seorang laki-laki berpakaian lengkap. Musa memberi salam kepadanya. Khidir berkata ' Sesungguhnya aku berada di negri mu dengan damai ' Musa berkata 'Aku Musa ' Khidir berkata, ' Musa Bani Israil? ' Musa membenarkannya. Musa berkata, ' Aku daatang menemuimu agar engkau mengajariku sebagian ilmu yang benar yang telah diajarkan kepada mu.'. Dia menjawab,' Sesungguhnya sekali-kali tidak akan sanggup bersamaku.' hai Musa sesungguhnya aku memiliki pengetahuan Allah yang diajarkan kepadaku yang tidak kamu ketahui, dan engkaupun memiliki pengetahuan Allah yang diajarkan kepadamu yang tidak aku ketahui.'

Musa berkata ' Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apapun. ' Khidir berkata ' Jika kamu mengikuti aku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun sempai aku sendiri yang menerangkannya kepadamu. ' Kemudian keduanya berjalan dipantai. Tiba-tiba melintaslah sebuah perahu. Mereka meminta kepada awak perahu agar ikut membawanya. Awak perahu mengenali Khidir, mereka naik tanpa membayar sewa. Setelah keduanya naik perahu tiba-tiba Khidir mencopoti papan perahu satu demi satu dengan kapak. Musa berkata kepada Khidir. ' Mereka telah membawa kita tanpa meminta bayaran, lalu kamu mengapa kamu merusak perahunya?. Mengapa kamu melubangi yang akibatnya menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah membuat kesalahan yang besar.' Khidir berkata,' Bukankah aku telah berkata,' Sesungguhnya kamu tidak akan bersabar bersama dengan ku.' Musa berkata ' Janganlah engkau menghukumku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan suatu kesulitan dalam urusanku'.

Kemudian datanglah burung pipit dan hinggap dipinggir perahu. Burung itu menukik ke laut satu atau dua kali. Khidir berkata kepada Musa, ' Pengetahuan Allah yang diajarkan kepadaku dan kepadamu hanyalah seperti air yang terbawa oleh paruh burung itu yang menukik kelaut ini'.

Musa dan Khidir turun dari perahu. Ketika keduanya berjalan dipantai, Khidir melihat seorang anak tengah bermain dengan anak-anak lainnya. Khidir memegang kepala anak itu, lalu memelintirnya hingga tewas. Musa berkata., ' Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang munkar.' Khidir berkata , ' Bukankah sudah aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan sabar bersamaku ?'
Musa berkata,' Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah ini , maka janganlah engkau membolehkan aku menyertaimu. Sesungguhnya kamu sudah cukup memberiikan uzur kepadaku.' Maka keduanya berjalan hingga tatkala sampai kepada penduduk suatu negri, mereka meminta dijamu oleh mereka. Tetapi penduduk negri itu menolak untuk menjamu mereka. Kemudian keduanya mendapati dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh. Lalu Khidir berisyarat dengan tangannya, Maka Khidir menegakkan dinding rumah itu. Musa berkata ' Penduduk yang kita jumpai tidak mau memberi kita makan dan menolak mejamu kita. Jikalau kamu mau, kamu bisa mengambil upah untuk itu." Khidir berkata ' Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak sabar terhadapnya.'

Khidir berkata. ' Sesungguhnya perahu itu aku lubangi supaya cacat, karena para pemiliknya akan membawa perahunya melintasi raja yang zalim, yang akan merampas tiap-tiap perahu yang bagus.Aku merusaknya supaya raja tidak merampasnya karena jelek. Dengan demikian, perahu ini masih dapat dimanfaatkan para pemiliknya yang miskin itu, yang tidak memiliki barang berharga lainnya selain perahu'

Khidir berkata, ' Dan anak itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran.' Dan semoga Allah menggantikan anak yang lebih baik dari anak yang dibunuh tadi.'

Khidir berkata, ' Adapun dinding rumah ini adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota ini, dan dibawahnya ada harta simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah orang yang shaleh, maka Tuhanmu menghendaki mereka sampai pada kedewasaanya dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu dan bukanlah tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya'.


Subahanallah dari kisah diatas, kita dapat mengambil beberapa hikmah diantaranya dalam menuntut ilmu kita haruslah sabar,dan kita semua memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing ...
Semoga artikel ini bermanfaat,tinggalkan komentar dan jangan lupa di share, Syukron..

Wassalamu'alaikum

2 komentar:

Wulan Ferani mengatakan...

Wiiih artikelnya seru juga hehe..
Nice kk .

Fityan Aula mengatakan...

Syukron, jangan lupa di share yaah hhehe
#mupeng

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Para Pejuang Islam -